Categories

Tampilkan postingan dengan label EDUCATION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EDUCATION. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2016

Refleksi Semangat Memajukan Pendidikan dari Film Won't Back Down

Sumber gambar: http://movie.co.idwp-contentuploads201601Wont-Back-Down

Tidak banyak film hollywood yang mengangkat tema pendidikan, bahkan mungkin film jenis ini tenggelam oleh kedigdayaan film dengan tema laga, fantasi, drama percintaan, heroisme dan sebagainya.
Dari sedikit jenis film bertema pendidikan, Won't Back Down layak menjadi perhatian untuk disimak.
Cukup menjadi alasan, meski dalam film tersebut menggambarkan sedikit sisi buruk dan kerumitan sistem pendidikan serta lika-liku kehidupan keluarga di negeri Paman Sam, namun  gambaran tersebut tidak jauh berbeda dengan kehidupan keseharian dan sistem pendidikan kita.


Bukan sebagai pengamat film dan jauh dari kata layak sebagai pakar pendidikan, penulis yang hanya berlatar ilmu kependidikan dan pernah menjadi seorang pengajar menganggap bahwa film ini dapat memberi inspirasi atau paling tidak mendeskripsikan sebagian kecil masalah dalam sistem pendidikan yang cukup ruwet dan real terjadi. Namun meski demikian dengan bermodalkan niat luhur, semangat, upaya maksimal, maka impian akan tercapai.


Kisah dalam film ini dimulai dari dua  single parent yang memiliki anak dengan kesamaan akan kemampuan belajar yang buruk. Seorang ibu, Jaime Fitzpatrick diperankan Maggie Gylenhaal penderita disleksia (ganggauan perkembangan kemampuan baca tulis usia dini) yang bekerja sebagai karyawan biasa dan memiliki anak, juga menderita disleksia yang belum bisa membaca dibandingkan anak seusianya, pindah dari satu sekolah ke sekolah lain dengan harapan buah hatinya bisa memperoleh didikan yang lebih baik.
Tidak jauh berbeda dengan ibu lainnya, Nona Alberts diperankan Viola Davis merupakan seorang guru,  memiliki anak yang sulit dan lamban menerima mata pelajaran akibat riwayat kecelakaan yang pernah dialami.

Latar belakang kehidupan keluarga keduanya dapat dikatakan miris, mereka gagal menjalin rumah tangga yang baik dengan pasangan masing-masing dan secara tidak langsung saling mempengaruhi perkembangan mental anak mereka.
 Masalah semakin bertambah ketika mereka menilai sekolah yang ada sangat diskriminatif, rendahnya kualitas guru dan buruknya sistem terkhusus metode belajar yang diterapkan.
Keduanya dipertemukan saat Jaime Fitzpatrick memasukkan pada sekolah yang prestasinya biasa-biasa saja atau bahkan kategori buruk tempat Nona Alberts mengajar.
Pada suatu ketika, Mereka kemudian menjadi dekat kala anak mereka memiliki kesempatan mengikuti undian untuk masuk ke salah satu sekolah  lain yang dinilai faforit.
Karena gagal diterima, mereka bersama-sama berusaha untuk menemui pemilik sekolah faforit tersebut. Bukannya menemui kepala sekolah tapi malah keduanya terlibat perdebatan, yang berdampak semakin intensnya komunikasi hingga  kemudian muncul ide yang berlebihan untuk membangun sebuah sekolah yang memenuhi kebutuhan anak mereka.

Untuk mewujudkan rencana mereka, tidak cukup mudah karena butuh waktu berbulan-bulan dan usaha yang keras dan kompleks untuk meloloskan proposal mereka ke Dewan sekolah yang menentukan bisa tidaknya didirikan sebuah sekolah baru di kota mereka. Jaime Fitzpatrick berlatar belakang marketing atau administrasi memposisikan dirinya untuk mengurus persiapan administrasi dan menghimpun dukungan calon orang tua murid sementara Nona Alberts berperan untuk merencanakan sistem pengajaran, melobi guru di sekolah tempatnya mengajar, hingga melobi dewan sekolah.
Perjuangan mereka tidak mudah, berbagai tantangan dihadapi mulai dari masalah keluarga, penolakan sebagian rekan guru dan yang terberat adalah hambatan Asosiasi guru yang merasa terganggu dengan kehadiran wacana tersebut. Bahkan Jaime Fitzpatrick sempat ditawarkan untuk memasukkan anaknya di sebuah sekolah terbaik demi membatalkan niat mereka.
Meski perjuangan cukup berat mereka berdua berjibaku menyelesaikan tahap demi tahap proses yang harus dilewati. hingga puncak suka cita berakhir dengan diterimanya proposal mereka pada sidang penentuan oleh Dewan sekolah yang berlangsung cukup alot.

Ada begitu banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari film yang belum lawas ini. Sebuah perjuangan pantang menyerah dari kondisi dan keterbatasan yang ada, tentang ketulusan kasih sayang dan prinsip yang terbangun baik personal maupun kolektif, kepekaan terhadap sistem pendidikan,  hingga besarnya peran asosiasi guru didalamnya. Sebuah refleksi perjuangan bapak pendidikan bangsa ini Ki Hadjar Dewantara membangun pondasi kependidikan yang dimulai dari rasa kepedulian, ketidakadilan dan ketimpangan masyarakat dalam mengenyam pendidikan dikala itu. Dengan menyaksikan film ini penulis merasa ini cukup menjadi koreksi tentang sistem pendidikan yang ada saat ini, paling tidak seperti apa sistem atau kondisi perkembangan pendidikan di lingkungan keluarga kita. atau mungkin cukup untuk menjadi pemicu ide demi memperbaiki sistem pendidikan dimulai dari skala terkecil.
   hR.

Sumber: Film Won't Back Down

Kamis, 03 September 2015

Perhatikan Ini Saat Minta Slip Tilang Biru

Beberapa waktu lalu beredar testimoni dan tulisan-tulisan di media/jejaring sosial yang menyarankan para pelanggar lalu lintas untuk meminta slip biru bila ditilang. Bukan tanpa alasan, konon katanya dengan slip biru tersebut, pelanggar disamping mengakui kesalahannya juga bersikap idealis dengan membayar denda langsung kepada negara melalui bank yang telah ditunjuk.

Saat ditilang memang ada tiga cara yang menjadi hak kita untuk menentukan pilihan mana yang akan kita ambil. Memilih jalan "damai", meminta slip warna merah atau meminta slip warna biru.

Sudah menjadi rahasia umum bila ditilang kita bisa "berdamai" dengan oknum Polantas yang menilang. "Berdamai" biasa dilakukan dengan menghubungi kenalan/keluarga yang juga oknum serta memiliki keterkaitan dengan oknum polantas penilang, entah rekan ataupun atasannya. Selain itu "berdamai" juga dilakukan dengan menyerahkan/menyogok oknum uang nominal tertentu sehingga kita sudah terbebas dari pelanggaran yang dilakukan saat itu. Saat menyogok memang nominalnya tidak sebanyak denda yang ditentukan oleh peraturan dan relatif tidak menyita waktu kita tapi sangat jelas kita telah melakukan penyogokan dan semakin memperburuk mental diri kita, masyarakat dan hukum kita, khususnya aparat yang mestinya kita banggakan.

Pilihan berikutnya adalah dengan meminta Slip warna merah, bila memilih slip ini berarti kita tidak mengakui pelanggaran yang dilakukan dan konsekwensinya kita siap meluangkan waktu untuk mengikuti sidang yang ditentukan oleh pengadilan. Pilihan ini memang sedikit merepotkan dan menyita waktu namun denda yang dibayar juga nominalnya tidak sebanyak denda maksimal dan tentu disesuaikan oleh hasil putusan sidang, serta yang terpenting lagi denda yang diserahkan langsung masuk dalam kas negara.

Pilihan berikutnya adalah meminta slip biru saat ditilang. Hal ini dilakukan bila kita dengan sadar melakukan pelanggaran disengaja ataupun tidak. Denda yang dibayar adalah nominal maksimal sesuai pelanggaran dan aturan yang berlaku. Denda langsung dibayarkan/ditransfer ke Negara melalui bank tertentu. Memilih slip ini memang idealis, kita tidak melakukan penyogokan dan juga tidak merepotkan ataupun tidak membutuhkan waktu berhari-hari, cukup membayar denda kemudian mengambil slip pembayaran dari bank, serta surat tilang slip biru yang telah dibubuhi tandatangan dan stempel oleh teller bank bersangkutan untuk diserahkan ke bagian tilang satuan polantas setempat sebagai penebus benda yang disita berupa SIM, STNK dan sebagainya.

Namun yang perlu diperhatikan saat meminta slip biru agar tidak merepotkan kita, pastikan nomor rekening bank yang dituju dan minta keterangan polantas yang bersangkutan mengenai ini. Berdasarkan pengalaman penulis, nomor rekening tersebut merupakan nomor rekening kejaksaan negeri setempat.

Sebagai penutup tulisan ini, untuk mengingatkan penulis sendiri dan pembaca, sudah seharusnya kita dengan sadar berupaya untuk tidak melakukan pelanggaran berlalu lintas yang secara langsung akan berdampak terhadap diri kita sendiri dan orang lain.
hR,

Salam...

(sumber: beberapa artikel dan pengalaman pribadi)

Sabtu, 27 Desember 2014

Download Buku Peminatan SMK Berbagai Jurusan Secara Gratis



Postingan kali ini admin blog akan berbagi  buku atau ebook SMK berbagai jurusan secara gratis dan mudah. Terdapat ratusan buku dengan berbagai peminatan SMK, seperti buku Gambar Teknik, Agribisnis Pakan Ternak Unggas, Dasar Desain, Gardu Induk, Ilmu Ukur Kayu, Kearsipan, Komputer Akuntansi, Konversi Energi, Mekanika dan Elemen Mesin, Pelayaran Kapal Niaga, Perekayasaan Sistem Radio dan Televisi, Teknik Produksi Migas, Perakitan Komputer, Dasar-dasar Kefarmasian, Tata Hidang dan banyak lagi.

Untuk mengunduh buku cukup mudah, hanya meng-klik judul buku yang diinginkan tanpa ribet.
Semoga buku-buku tersebut bermanfaat, baik bagi Siswa SMK, Guru maupun Masyarakat sebagai salah satu sumber pengetahuan.

Untuk mendownload buku SMK silahkan klik disini
hR

Rabu, 16 Mei 2012

E-Learning Gratis

Bila sebelumnya pada postingan yang berjudul Desain Media Pembelajaran E-learning telah membahas pembuatan blog dan web secara gratis untuk pemanfaatannya sebagai elearning, maka pada postingan kali ini penulis juga akan membagi informasi mengenai pembuatan elearning menggunakan moodle yang benar-benar gratis (terkecuali akses internetnya..), tidak begitu merepotkan karena tidak dipusingkan lagi dengan penginstalan pada hosting website. Pengajar hanya perlu mengetahui dan menguasai penggunaan atau pengoperasian moodle untuk pembelajaran nantinya. Bagi anda yang ingin tau banyak tentang moodle silahkan kunjungi komunitas moodle disini.
Info e-learning gratis ini sebagai pilihan dan solusi setelah mencoba dan mengaplikasikan Desain Media Pembelajaran E-learning pada postingan sebelumnya yang merepotkan dan memiliki kekurangan khususnya kendala saat instalasi moodle di hosting gratis.

Situs elearning gratis ini dapat pula dilampirkan/di-link dalam blog ataupun website yang kita miliki. Adapun mengenai pembuatan blog dan web sebagai elearning gratis dapat dilihat di postingan Desain Media Pembelajaran E-learning harisbahar.blogspot.com. Namun anda juga dapat hanya menjadikannya situs tunggal bila tidak ingin repot mengurusi blog atau situs anda yang lain.

Sebelum menggunakan layanan situs e-learning gratis ini selayaknya anda bijaksana dalam pemanfaatan dan pendaftaran domainnya, disarankan anda mandaftarkan domain tidak lebih dari dua. (daripada anda menyewa hosting dengan kapasitas besar dan tentu mengeluarkan biaya besar pula, tidak ada salahnya jika anda bijaksana...) Mengapa demikian...?? Selain karena gratis, penyedia layanan ini bukan perusahaan melainkan sukarelawan dari Spanyol yang berbaik hati dan menyempatkan diri untuk membantu penggunaan elearning dalam pendidikan. Untuk berlanjut dan bertahannya layanan ini anda dapat berdonasi dengan membayar 15 Euro/bulan hingga 100 Euro/tahun, dengan donasi itu iklan di domain anda akan dihilangkan serta berbagai layanan lebih dapat pula anda peroleh dibandingkan bila anda hanya menggunakan layanan ini secara gratis.   (hR)

Contoh situs elearning gratis milik penulis dapat anda lihat disini , untuk mendaftar silahkan klik disini.


Tulisan elearning gratis ini dapat anda copy paste dengan menyertakan sumbernya yaitu harisbahar.blogspot.com

Salam..

Kamis, 03 Mei 2012

Desain Media Pembelajaran e-learning

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komputerisasi, Pembelajaran berbasis elearning merupakan pembelajaran alternatif yang perlu dipertimbangkan.
Meski dengan berbagai keterbatasannya, jenis pembelajaran ini memiliki kelebihan seperti efisiensi dalam proses belajar mengajar.

Pada tulisan ini tidak membahas teori dan karakteristik elearning melainkan desain atau rancangan media pembelajaran e-learning dan tutorial pembuatan e-learning tersebut, khususnya berbasis blog dan web secara gratis.


Media Pembelajaran Berbasis Blog

Blog merupakan pilihan pertama dalam membuat pembelajaran elearning, selain gratis dan seumur hidup (kecuali penyedia blognya bangkrut..) blog mudah dibuat dan tutorialnya bertebaran dimana-mana.
Bila dinginkan hanya sedikit memodifikasi template standar, maka blog sudah bisa digunakan sebagai media pembelajaran.
kompleksitas dan isi blog dipengaruhi oleh kreatifitas masing-masing dari kita. hal itu bisa dilakukan dengan menambahkan widget, plugin atau aplikasi dari pihak ketiga atau bahkan langsung berguru pada master-master blogger yang baik hati.. :)
contoh media pembelajaran elearning berbasis blog sederhana bisa dilihat disini


Media Pembelajaran Berbasis Web

Keterbatasan elearning menggunakan blog adalah minimnya akses dalam pengaturan. selain itu kurangnya widget atau plugin yang tersedia, bila pun ada sangat terbatas dan tidak sesuai keinginan serta kadang pula berbayar.
Pilihan berikutnya adalah website. (kata website penulis masih malu-malu sebut karena khawatir diprotes master blogger ato master web...).
yang perlu diperhatikan dan perlu dipersiapkan dalam membuat elearning berbasis web yang gratis adalah:
  1. Domain (nama web misalnya elearning.com) yang gratis dan paling banyak digunakan adalah domain di www.co.cc ataupun www.dot.tk. penggunaaan domain tersebut gratis selama satu tahun. untuk memperpanjang kita diharuskan membayar sekian dollar. namun bila tidak kita dapat atasi dengan membuat nama domain baru tentu dengan setting atau pengaturan ulang.
  2. Hosting atau tempat penyimpanan file (isi website) yang biasa digunakan adalah hosting di www.000webhost.com. hosting ini menjadi salah satu pilihan karena banyak kelebihan dibandingkan yang lain seperti kelengkapan fiturnya dan tanpa iklan pula.
  3. Setelah alamat web dan hosting telah tersedia maka berikutnya adalah mendesain tampilan dan isi website. untuk melakukan hal tersebut maka biasanya digunakan aplikasi desain web seperti dreamweaver, frontpage, aplikasi olah gambar serta diperlukan pula pengetahuan mengenai html dan php untuk memperoleh media pembelajaran berbasis web yang baik. namun lagi-lagi kita mengharapkan yang gratis dan mudah, maka pilihannya adalah menggunakan moodle. moodle merupakan aplikasi pembelajaran yang interaktif dan cukup lengkap. hanya dengan menginstal moodle dan mengatur berbagai parameter yang terbilang mudah maka tersajilah sebuah media elearning berbasis web.
  4.  Hal terpenting yang harus lebih diperhatikan selain dari keseluruhan poin diatas adalah kreatifitas sang pengajar/fasitator, kemauan belajar keras dan berbagi demi kemajuan pendidikan di negeri yang katanya carut marut ini.. (bukan menggurui loh...)
contoh web elearning yang penulis buat sendiri dapat dilihat disini.  hR

Tutorial lengkapnya mulai dari daftar domain sampai selesai dapat dilihat tutorial onlinenya disini  atau bila ingin didownload silahkan download disini.


Tulisan Desain Media Pembelajaran e-learning ini pasti banyak kekurangan bila ditinjau dari berbagai sisi, jika berkenan silahkan tulis komentar saran dan kritikan yang membangun.silahkan dikopipaste tapi jangan lupa tulis sumbernya juga coy..

sumber: http://ujiansmp.tk dan blog harisbahar

salam..




Jumat, 10 Februari 2012

Motivasi Berprestasi


    a. Pengertian Motivasi berprestasi
Abraham Maslow mengemukakan teorinya mengenai kebutuhan manusia, Kebutuhan-kebutuhan itu terdiri dari kebutuhan fisiologis (seperti makan, minum), kebutuhan akan rasa aman tentram, kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, kebutuhan untuk berprestasi merupakan kebutuhan manusia pada peringkat yang tertinggi. (Siagian dalam Prantiya 2008)
Selain hal tersebut Prof. Dr. David C Mc Clelland dalam Thoha (2007), membedakan tiga kebutuhan pokok manusia. Ketiga kebutuhan tersebut adalah kebutuhan berprestasi, kebutuhan afiliasi dan kebutuhan berkuasa.
Mc Clelland secara terperinci pada Teori Motivasi Berprestasinya yang dikutip Basuki (2007) menyatakan “motivasi berprestasi bermakna suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji”.
Sementara itu Prantiya (2008) menyimpulkan “motivasi berprestasi merupakan suatu usaha yang mendorong seseorang untuk bersaing dengan standar keunggulan, dimana standar keunggulan ini dapat berupa kesempurnaan tugas, dapat diri sendiri atau prestasi orang lain”.
Berdasarkan Teori dan Pendapat tentang motivasi berprestasi maka diperoleh kesimpulan mengenai motivasi berprestasi, dalam hal ini motivasi berprestasi di sekolah adalah dorongan pada diri seseorang baik itu dari dalam ataupun dari luar untuk melakukan aktivitas berupa belajar dan aktivitas lainnya dengan semaksimal mungkin dan bersaing berdasarkan standar keunggulan agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji atau predikat unggul.
b. Aspek Motivasi berprestasi
Motivasi berprestasi yang timbul pada diri seseorang umumnya disebabkan oleh:
1. Instrinsik
Menurut Monks, Knoers, Siti rahayu dalam Dimyati dan Mudjiono, (2006: 90-91):
Motivasi instrinsik yang dikarenakan orang tersebut senang melakukannya. Sebagai ilustrasi, seorang siswa membaca sebuah buku, karena ia ingin mengetahui kisah seorang tokoh, bukan karena tugas sekolah. Motivasi memang mendorong terus, dan memberi energi pada tingkah laku. Setelah siswa tersebut menamakan sebuah buku maka ia mencari buku lain untuk memahami tokoh yang lain. Keberhasilan membaca sebuah buku akan menimbulkan keinginan baru untuk membaca buku yang lain. Dalam hal ini, motivasi instrinsik tersebut telah mengarah pada timbulnya motivasi berprestasi. Menurut Monks, motivasi berprestasi telah muncul pada saat anak berusia balita. Hal ini berarti bahwa motivasi kinstrinsik perlu diperhatikan oleh para guru sejak TK, SD, dan SLTP. Pada usia ini para masih memberi tekanan pada pendidikan kepribadian, khususnya disiplin diri untuk beremansipasi. Penguatan terhadap motivasi instrinsik perlu diperhatikan, sebab disiplin diri merupakan kunci keberhasilan belajar.
Handoko dalam Juliani (2007) berpendapat “motivasi intrinsik yaitu motivasi yang berfungsi tanpa adanya ransangan dari luar, dalam diri individu sudah ada suatu dorongan untuk melakukan tindakan.
Adapun factor yang berkaitan intrinsic menurut Hick dan Gullet dalam Juliani (2007) adalah:
a. Kepentingan yang khusus bagi seseorang, menghendaki dan menginginkan merupakan hal yang unik baginya.
b. Kepentingan keinginan dan hasrat seseorang adalah juga karena untuk kesemuanya ditentukan oleh factor yang membentuk kepribadiannya, penampilan biologis, psiologis dan psikologisnya.
2. Ektrinsik
Menurut Monks, Knoers, Siti rahayu dalam Dimyati dan Mudjiono, (2006: 91):
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap prilaku seseorang yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu, karena dorongan dari luar seperti adanya hadiah dan menghindari hukuman. Sebagai ilustrasi, seorang siswa kelas satu SMP belum mengetahui tujuan belajar di SMP. Semula, ia hanya ikut-ikutan belajar di SMP karena teman sebayanya juga belajar di SMP. Berkat penjelasan wali kelas satu SMP, siswa memahami faedah belajar di SMP bagi dirinya. Siswa tersebut belajar dengan giat dan bersemangat. Hasil belajar siswa tersebut sangat baik, dan ia berhasil lulus SMP dengan NEM sangat baik. Ia menyadari pentingnya belajar dan melanjutkan pelajaran di SMA. Dalam hal ini motivasi ekstrinsik “dapat berubah” menjadi motivasi instrinsik, yaitu pada saat siswa menyadari pentingnya belajar, dan ia belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain.
Sardiman dalam Faiq (2009) menjelaskan bahwa “motivasi ekstrinsik merupakan motif yang aktif dan berfungsi karena adanya dorongan atau ransangan dari luar. Tujuan yang diinginkan dari tingkah laku yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik terletak diluar laku tersebut.
3. Karakteristik Motivasi Berprestasi
Mangkunegara dalam Juliani (2007) mengemukakan bahwa karakteristik individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi antara lain memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi, memiliki program kerja berdasarkan rencana dan tujuan yang realistis serta berjuang merealisasikannya, mampuan mengambil keputusan dan berani mengambil resiko yang dihadapi, melakukan pekerjaaan yang berarti dan menyelesaikannya dengan hasil memuaskan dan mempunyai keinginan menjadi orang yang terkemuka yang menguasai bidang tertentu.
Mc Clelland dalam Zarkasyi (2006) mengungkapkan karakteristik orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi berupa:
a. Memilih untuk mengindari tujuan prestasi yang mudah dan sulit. Mereka sebenarnya memilih tujuan yang moderat yang mereka pikir akan mampu mereka raih.
b. Memilih umpan balik lansung dan dapat diandalkan mengenai bagaimana mereka berprestasi.
c. Menyukai tanggung jawab pemecahan masalah. (hR)


pustaka :

  • Prantiya. 2008. Kontribusi Fasilitas Belajar dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Kimia pada Siswa SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten. Tesis tidak diterbitkan. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  • Thoha, Miftah. 2007. Perilaku Organisasi : Konsep Dasar dan Aplikasinya. Yogyakarta : Fisipol UGM.
  • Basuki. 2007. Motivasi Berprestasi, (On line), (http://langgengbasuki.blog.com/page/2/ diakses 12 januari 2011).
  • Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta; PT.Rineka Cipta.
  • Juliani 2007. Pengaruh Motivasi Intrinsik Terhadap kinerja Perawat Pelaksana di Instalasi Rawat Inap RSU Dr. Pirngadi Medan Tahun. Tesis tidak diterbitkan. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
  • Zarkasyi, Srihadi, W. 2006. Orasi Ilmiah : Mahasiswa dan motivasi Berprestasi. Bandung: Fakultas Ekonomi Unpad.

Fasilitas Belajar

a. Pengertian Fasilitas Belajar
Prantiya (2008) berpendapat “fasilitas belajar identik dengan sarana prasarana pendidikan. Senada dengan hal tersebut, Arikunto dalam Sam (2008) juga berpendapat “fasilitas dapat disamakan dengan sarana yang ada di sekolah”.
Mulyasa (2005) dalam Manajemen Berbasis Sekolah menyatakan bahwa, yang dimaksud dengan sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.
Mulyasa (2005) lebih lanjut menerangkan bahwa “prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengaja, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan”.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab VII Standar Sarana dan Prasarana, pasal 42 menegaskan bahwa (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan, (2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat olahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/ tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa fasilitas belajar adalah segala sesuatu yang dapat menunjang dan mempermudah kegiatan belajar mengajar. Fasilitas yang dimaksud adalah sarana pendidikan yang ada di sekolah berupa, gedung atau ruang kelas dan perabot serta peralatan pendukung di dalamnya, media pembelajaran, buku atau sumber belajar lainya.
b. Aspek Fasilitas Belajar
Prantiaya (2008) mengelompokkan Fasilitas belajar atau sarana dan prasarana belajar menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut adalah sumber belajar, alat belajar dan pendukung pembelajaran.
Menurut Edgar Dale dalam Kherid (2009) mengemukakan sumber belajar adalah “segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang”. Sedangkan pendapat lain dikemukakan oleh Association Educational Communication and Technology (AECT) yang dikutip oleh Kherid (2009) yaitu “berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar”.
Alat belajar merupakan bahan atau alat apapun yang digunakan untuk membantu dan peyampaian dan penyajian materi pembelajaran. Alat ini dapat berupa alat peraga baik itu alat elektronik maupun alat lainnya yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Bagian lain yang cukup penting dalam fasilitas belajar adalah prasarana pendukung berupa gedung, terkhusus ruang kelas yang digunakan dalam pembelajaran. Diharapkan dalam ruangan atau gedung tersebut tercipta suasana yang kondusif guna kelancaran dan tercapainya tujuan pembelajaran. (hR)

Pustaka :