Biarkan hatiku memekik hingga mengalahkan gemuruh halilintar
menembus semesta
biarkan jiwaku memberontak melampaui dahsyatnya badai topan
menerobos ujung angkasa
biarkan
toh ragaku masih disini
meratapi betapa tak berdayanya memandang sang waktu yang terus berlalu melambaikan kecongkakannya
menertawakan ketidaksempurnaanku
menyamarkan eksistensiku
mencibir air mataku yang takkan habis bagai limpahan samudra
hingga kemudian kutersadar dan bangun dari mimpiku
bahwa saat ini aku terhimpit gejolak nurani yang berada di buih realitas (hR)
me 170209
Jumat, 10 Februari 2012
Kata Hati, mungkin puisi.. (Gejolak yang Terbelenggu)
Label:
OPINION
Baca ini juga :
- Potensi Pengembangan Pertelevisian Daerah Terkait Kewajiban Siaran Lokal Stasiun TV Berjaringan
- Idealisme VS Pragmatisme Stasiun TV
- Selamat Tinggal Dual SIM?
- 730 Hari di Perantauan (hanya sebuah catatan pengingat)
- TV Digital Sebuah Keharusan dan Dampak Terhadap Masyarakat
- Kali Ini, Berjumpa Senja di Bibir Manakarra
- Jangan Lengah
- Untitle
- Bila Kartu NPWP Tidak Sesuai Dengan Master File Dirjen Pajak
- Refleksi Semangat Memajukan Pendidikan dari Film Won't Back Down
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar